Dok. Pribadi
: Untukmu dua huruf yang di sana

Besok. Kamu masih ingat? harus aku akui, sampai dengan saat ini ada banyak hal yang tidak bisa aku tuturkan padamu. Pun terkadang aku tidak mampu untuk menulisnya, bukan tanpa sebab, aku hanya ingin menikmati setiap hal yang kupunya sendiri (dan kamu). File itu aku temukan bersama rayap sewaktu pulang ke rumah. Sebentar, pulang ke rumah... ada rindu setiap mengulang-ngulang kalimat itu. Itu adalah catatan yang kutulis lima tahun lalu yang mengingatkanku untuk kembali pulang. Pulang ke matamu, hatimu dan terkadang pulang ke tiap ingatanmu. Bukankah sejauh apapun kita melangkah, rumah adalah tempat kita kembali? Rumah adalah tempat kita menepi? Seperti itulah aku menjadikanmu. Kamu jangan marah dulu, merantau itu adalah kodratku, tapi kamu (semoga) jadi takdirku.

Bekasi, Agustus 18. 22.40

Finally,I can back to this world. 

Rasanya udah lama banget gue tidak menyentuh dunia ini, setelah kepergian Sigi beberapa tahun lalu, dan hari ini mulai kembali mencoba untuk aktif dengan semua kesibukan serta aktivitas yang ada. This chance I gonna review the last book I read.

Ada yang ngerasa aneh sama judul yang gue kasih untuk post ini enggak? Tenang .., gue masih sadar dan percaya sama adanya surga, kok. Walaupun surga dan neraka adalah sebuah konsep percayaan yang tidak bisa kita rasakan buat saat ini –dan mungkin juga akan terus jadi pertanyaan --. Daripada gue bahas lebih jauh dengan segala tetek bengek masalah surga, mendingan kalian baca buku “Surga Sungsang”.


Mungkin untuk yang terbiasa baca buku surealis pemberian judul semacam ini udah biasa, tapi buat yang belum banyak atau katakanlah baru naik kelas dari bacaan novel remaja yang memenuhi rak-rak toko buku atau yang mulai belajar bahwa ada yang lebih menarik ketimbang baca quote baper dari tere liye melulu.

Gue sebenarnya udah minat untuk baca karya-karya dari Triyanto Triwikromo, penjaga gawang sastra Harian Merdeka, dari dulu tapi gue baru kesampaian baru-baru ini, setelah baca tulisan dari A.S Laksana, Agus Noor ataupun Seno. Gue belum tahu banyak karakter tulisan dari penulis buku surga sungsang ini, tapi berbeda dengan Agus noor, Si Pangeran Kunang-kunang, yang punya diksi apik dan puitik atau A. S Laksana yang punya gaya cerita lebih blak-blakan walaupun sama-sama mengusung tema surealis. TT (inisial Triyanto Triwikromo) lebih memilih diksi yang sederhana tapi jarang dipake sama pengarang lain, contohnya seperti yang gue kutip berikut:

“Kufah keberatan bukan karena nisan Syekh Muso sering menguarkan cahaya hijau yang menyilaukan mata, tetapi jika sewaktu-waktu tanjung itu turut dilenyapkan, ia tidak akan bisa berlama-lama memandang bulan ….” (hal.1)”

Pada awalnya kata tersebut gue anggap typo, tapi gue ragu juga tidak mungkin editor penerbit sekaliber gramedia dan pengarang yang udah punya jam terbang tinggi semacam TT ini melakukan kesalahan sepele. Alhasil gue coba untuk cek n ricek di KBBI apps dan ternyata kata uar memang ada dan lebih lazim digunakan ketimbang “mengeluarkan”. Selain itu kata uar juga gue temui di beberapa bab selanjutnya dalam buku ini.

Sewaktu membaca buku ini gue punya perasaan yang sama ketika baca buku karangan Andrea Hirata. Kesengajaan pengarang melakukan loncatan alur cerita buat gue semakin penasaran untuk menyelesaikan buku ini. Karena untuk tahu penyebab inti cerita dari bab 1 mungkin akan lo temuin ketika baca di bab 5 atau 6. Pun di bab-bab akhir lo enggak akan temui anti-klimaks dari bab pertengah layaknya buku lain. Kecakapan pengemasan cerita dari TT yang apik buat gue punya klimaksnya tersendiri di tiap babnya dan TT memberikan keleluasaan pada pembaca untuk mengatur sendiri bagaimana cerita ini akan berakhir.

Selain itu, walaupun alih-alih TT menyebut buku ini sebagai novel tapi gue sebagai pembaca seperti membaca sebuah buku kumpulan cerpen. Karena seperti yang gue bilang di atas, bahwa tiap bab TT memberikan sebuah klimaks dan terkadang manuver yang uaaapiiik. Kalau lo anggap gaya bercerita TT aja yang apik dan tidak biasa lo salah besar, karena TT menyuguhkan sebuah isi yang buat lo mikir. Dengan judul Surga Sungsang yang disematkan pada buku ini, lo akan temui banyak istilah agama yang sering atau kerapkali kita dengar.

“Bangau-bangau itu sebagaimana burung Ababil menjatuhkan batu-batu sijil dari neraka ke tubuh pembantai. Batu-batu api itu bergesek dengan udara, menembus dada para pembantai sehingga tubuh-tubuh para pembunuh itu terbakar.” (hal. 29)

“Lalu malam itu juga Rajab membayangkan diri menjadi Hamzah yang mengomando pertempuran sengit melawan kemungkaran.” (hal.45)
Kutipan terakhir gue ambil dari bab yang berjudul Wali kesebelas, “Tak hanya dianggap memiliki semua mukjizat yang bisa dilakukan oleh Nabi Musa, seorang warga pernah menceritakan dengan terperinci, syekh Muso juga pernah ditelan semacam naga, semacam kerba laut, atau hiu raksasa, dan tak mati meskipun telah berada di perut hewan itu sehari semalam. Karena itu warga yakin bahwa syekh Muso itu sesungguhnya Nabi Yunus yang diutus menyelamatkan kampung dari kehancuran dan kemungkaran.” (hal. 9)

Saat gue menghela napas dan menuliskan review ini, gue baru sadar satu hal. Gue sadar kenapa pada akhirnya si pengarang memilih kata sungsang sebagai pendamping dari surga. Melihat definisi sungsang, KBBI menyebutkan seperti ini: Terbalik (yang di atas menjadi di bawah, yang di depan menjadi di belakang, kepala di bawah kaki di atas, dsb). Saat ini banyak sekali orang telah salah menginterpretasikan/menggambarkan apasih surga itu, which is surga yang memang telah banyak disebutkan dalam kitab suci dan surga buatan yang memang kita buat sekehendak atau sekeinginan kita.


#Desember, Bekasi 2016
:Teruntuk Kamu yang Memakai Bando Merah



"Selamat Datang, mau pesan apa?"
Itu katamu waktu itu. Suara yang membuatku kembali, lagi dan lagi. Untuk mencarimu, untuk melihat bando merahmu, untuk mendekatimu dan mendengar suaramu lagi. Karena, adakah yang lebih menarik dari hal yang bisa membuatmu kembali? Adakah yang lebih menantang dari memerhatikanmu bekerja dari sudut yang kautak pernah tahu? Terakhir, adakah yang lebih membuatmu mengerti apa itu rasa sendiri? 
#113016

Selasa, 28 Januari

Dunia ini begitu sunyi. Seperti halnya sebuah harmoni tanpa nada. Burung yang terbang tanpa ada kepak sayap. Dan juga layaknya malam yang penuh dengan rintik hujan-hujan ringan tak bersuara. Seperti hari ini, di persimpangan jalan, di halte persimpangan jalan aku duduk dengan cemas. Berharap satu-satu harapan muncul perlahan dari atas atap halte yang mulai basah tersentuh hujan yang belum juga usai dan enggan tuk pergi.


Aku duduk ditengah kerumunan orang-orang yang sama halnya denganku. Mungkin saat ini mereka tengah berpikir bagaimana caranya bisa sampai di rumah dengan cepat. Seorang mungkin tengah berpikir bisakah anaknya mengantarkan payung untuknya. Bisa juga satu dari mereka tengah memikirkan barang apa yang harus mereka beli terlebih dulu, sebelum akhirnya dia meminta maaf karena datang terlambat. Yang terakhir, mungkin ada di antara mereka tengah berharap dengan sangat, supaya hujan terus datang dan bertambah deras, hingga dia bisa menyatukan kenangan yang ia miliki yang mungkin saja masih tersisa di antara ribuan titik air yang turun.

Selain yang telah kusebutkan di atas, di arah jam sebelas dari tempatku duduk ada sepasang remaja tanggung bercengkrama. Saling merapatkan dan menghangatkan. Yang laki-laki tengah bercerita entah apa namun sangat antusias. Dan perempuan yang di samping laki-laki itu hanya menanggapinya dengan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat serta sesekali ia menundukan wajahnya.

Aku kembali dengan hatiku sendiri. Memaksakan untuk terus bermonolog serta terus memerhatikan sekeliling. Jalan raya penuh dengan kebisingan mesin-mesin beroda, terus berjalan dan menembus hujan dalam kecepatan. Perasanku semakin tidak keruan, ada apa ini? Kenapa sampai selama ini aku masih tetap menunggu di sini. Ada alasan yang kulupakan sehingga aku bisa duduk di persimpangan ini. Aku duduk dalam keadaan gelisah, sampai aku melihat seorang perempuan di seberang jalan dekat jembatan penyebrangan tengah berdiri dengan payung ungu. Kegelisahanku terhenti, karena aku bertemu dengan alasan kenapa aku duduk disini, di halte persimpangan ini. Di seberang sana ada perempuan yang menginginkan memiliki rumah sederhana berdinding permen-permen dan berlantaikan cokelat.


Senin, 28 Desember

Hujan selalu saja datang sendiri, menyisihkan semua orang atas kesedihan yang ia miliki. Seperti sore ini, hujan masih satu-satu turun di persimpangan jalan dan aku berada di antara tetes-tetes hujan itu. Aku lupa kenapa bisa begitu ingin berada di tempat ini. Bermain dengan air hujan dan tanpa ditemani oleh siapapun. Aku menuju halte di depan sana, melipat payung dan duduk dengan tenang. Aku masih mengatur napas dan mengosok-gosokkan telapak tangan yang dingin karena terlalu sering bersentuhan dengan hujan.

Dunia ini gelap. Kata orang gelap itu tidak pernah diciptakan Tuhan untuk dunia ini, gelap hanya sebuah kata yang mengistilahkan kekurangan cahaya. Kalau memang gelap itu tidak ada dan hanya ada kekurangan cahaya, maka cahaya adalah satu dari banyak hal yang tidak ingin kusebut dalam doaku untuk Tuhan. Agar gelapnya, maaf maksudku, kekurangan cahaya dalam duniaku bisa terus kunikmati. Dan terus berjalan apa adanya.

Aku menengadahkan kepalaku. Dari mataku ini hanya tampak terlihat berwarna hitam, tidak ada yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sementara hujan masih begitu merasakan duka, tanganku meremas surat yang kudapat seminggu lalu. Surat yang kudapat minggu lalu dari adikku. Sebuah petunjuk untuk aku tetap berada di tempat ini. Sekarang.

"Apa kabarmu? Bisakah kamu datang di tempat kali pertama kita bertemu? Kuharap kita bisa membicarakan banyak hal tentang permen dan kembang gula seperti waktu itu. Aku akan menunggu 3 hari dari sekarang."


Aku menghela napas, dan menghembuskannya perlahan. Entah kenapa, aku memikirkan pria itu, pria yang kudapati tengah menggigiti kembang gula berwarna merah muda di pasar malam, ia pria dengan senyum kecil bermata bulat dengan kacamata minusnya. Aku bertemu dengannya secara tak sengaja, saat aku melepaskan pegangan adikku dari keramaian pasar malam waktu itu.
Aku tersenyum.

Katanya, ia ingin sekali menjadi kembang gula yang dimakan dengan cara menyesapnya. Agar manis yang berasal dari gula warna-warni itu bisa bertahan lama di dalam lidah sebelum menghilang bersamaan dengan sisa-sisa liur.

Aku merasakan langit telah menjadi benar-benar gelap, langit seperti ini benar-benar menggangguku, seperti, mengingatkan bahwa lebih lama aku berada di sini, semakin lama aku terjebak dalam kepingan bahagia yang telah kuciptakan sendiri. Tapi aku masih belum ingin beranjak dari tempat ini, tempat dengan jalan yang kukenal di dalam kepala, tempat yang benar-benar kutahu dengan hanya menyentuhnya. Terakhir, tempat yang menjadikanku tempat kembali kedua setelah surat itu.

Entah sampai kapan, aku juga tidak tahu, tapi, satu doaku untuk hari ini: Ada seseorang yang membantuku berdiri, mencoba merasakan apa yang kurasakan dan melihat apa yang kulihat. Seseorang yang memegang tanganku dengan menceritakan banyak hal tentang permen-permen dan kembang gula. Hingga itu terjadi, aku akan kembali besoknya …, besoknya …, besoknya …, dan besoknya.

#Cerita ini sempat diceritakan dengan judul Kembang Gula, diedit seperlunya dan diceritakan ulang untuk mengenang perempuan berkacamata yang kini berbeda visi.

25 Januari 2014.