Hari Minggu

Aku pernah ke tempat ini sebelumnya. Berulang kali aku ke tempat ini, berulang kali pula ada sebuah rasa sakit. Mungkin seperti tusukan di perut. Seingatku, jalan ini pernah berhasil membuatku ingin menangis. Tapi bukan tangisan yang penuh dengan derai air mata. Hanya sebuah perasaan yang tak terbendung dalam jiwa. Nafasku mendadak memburu. Tersengal. Putus-putus. Berkali-kali kucoba bertahan untuk menahan tangisan itu dengan menggigit bibir bawahku. Nihil, itu hasilnya. Meski demikian aku tetap memaksakan untuk tetap datang ke tempat ini.

Waktu itu, kau sedang memakai kaos berwarna merah dan celana jeans pendek. Duduk di bawah pohon rindang dengan sisa hujan yang turun semalam. Dalam suasana seperti ini, hal yang kuinginkan adalah hujan kembali turun, agar aku bisa mengenakannya jaket atau merangkul pundaknya, seperti film roman yang sering kutonton. Tapi khayalan itu tidak terjadi. Mungkin saja saat ini Tuhan tidak sedang di pihakku. Malahan kauberlari-berlari dengan kumpulan anak kecil yang kebetulan bermain ke tempat ini, membiarkan aku di sini—sisi sudut yang tak pernah kaulihat.

Rambut yang semula terkuncir satu di belakang, kini kaumelepaskan kuncir berwarna merah itu. Membiarkan rambutmu yang bergelombang ikut meliuk-liuk atau beterbangan saat kausedang berlari mengejar anak-anak kecil itu.

Mungkin dengan mendekatimu yang sedang bermain, kaubisa mengajakku. Namun, kau tetap bergeming. Sekali kauberhenti untuk melihatku dengan tatapan hambar, kemudian kembali berlari dengan anak kecil itu, membiarkan aku sendiri di tempat ini. Sama seperti sekarang
.
Apa kabar perempuan itu? Pertanyaan semacam ini kerapkali muncul dan menyesaki pikiranku. Kadang saat aku mengerjakan pekerjaan, sedang makan atau saat tidur sekali pun. Pertanyaan ini tidak pernah mau berkompromi kalau aku juga ingin merasakan suatu kebebasan. Aku tidak ingin ada beban. Sudah berbagai macam cara diperbuat untuk mengalihkan pertanyaan ini dibenakku. Tapi dadaku terasa sesak. Nafasku menjadi satu-satu. Limbung. Pertanyaan ini seperti mencekikku. Well, aku membiarkan pertanyaan itu terus datang dan hidup dalam otakku.

Kali ini, kuprogram sensor motorikku untuk melangkah perlahan. Agar semua kenangan di setiap jengkal tanah yang telah kulewati sore ini dapat terhisap di telapak kakiku: indah atau pun buruk. Dalam perjalanan di jalan setapak itu, aku harap menemukan kembali perasaan seperti dulu. Bukan seperti sekarang. Karena, aku benci dengan keadaanku yang seperti ini. Sangat benci. Kuhidup dalam bayangan masa lalu. Terutama bayangan tentangmu. Perasaan seperti ini bukan hanya sekadar akibat dari rasa suka atau kagum. Ini empati. Empati yang tak terbalas. Rasa yang tak bertuan. Ah ....
Di hari Minggu pukul tujuh, kau selalu membawa buku cerita untuk membacanya di puncak bukit, di bawah pohon cemara udang yang rindang serta tinggi menjulang. Di tempat kaududuk pula ada sebuah makam kecil tentang masa lalumu. Masa lalumu yang membuat aku cemburu. Cemburu pada orang yang telah mati tapi berhasil hidup di benak jiwamu. Mantannya ada di mata perempuan itu. Nafasnya, senyumnya, tutur katanya, hingga yang tersisa untukku adalah puing-puing harapan.



Kauangkat wajahmu. Sedetik kita bertatap mata dari jaraknya yang jauh dari tempatku berdiri. Tapi aku tahu kau menatapku untuk segera pergi. Pandangan di matanya mengartikan aku tidak boleh memerhatikannya. Karena dia ingin sendiri. Menikmati semua kenangan bersama mantannya di bawah pohon. Aku mundur perlahan. Melangkah satu-satu sembari berdoa kalau saja perempuan yang duduk di sana dibuat lupa hingatan oleh Tuhan. Kumembalikan badan dan menuju dipan rumah kita. Kembali membaca koran dan menyesap kopi yang kaubuatkan untukku tadi.

Kalau biasanya kuselalu meminum kopi panas, tapi sekarang kopi itu kubiarkan dingin terlebih dulu. Layaknya hatiku yang dibiarkan dingin oleh perempuan itu. Hambar. Atau apa saja nama yang pas untuk keadaanku sekarang ini. Pandangan mata ini masih berada di bibir cangkir kopi yang telah dingin. Membayangkan wajahnya yang berada di kopi pekat itu. Dia tersenyum untukku. Membacakan sebuah buku cerita dan sesekali dia bersandar di pundakku. Mungkin saja ini akan terasa indah. Tapi apa hal seperti ini akan terjadi? Kurasa tidak. Lama kutepekur di bibir cangkir, aku terlonjak dengan sebuah tangan yang menepam tangan kiriku. Sembari mengatur napas, aku menundukan wajahku. Aku tahu kalau kau sedang memperhatikanku tapi itu hanya sebentar saja karena setelah itu kau pun mengarahkan pandangan ke arah puncak bukit.

Kucoba untuk menekuri bibir cangkir kembali, sambil menunggu kesempatan kau memalingkan wajahmu ke arahku, seperti tadi. Lama aku menunggu kesempatan yang tidak kunjung datang, kumenapak-nepakan lengan kursi dengan jari telunjuk dan tengah agar dia memalingkan pandangannya padaku. Namun, sia-sia juga yang telah aku lakukan. Lehermu seperti terbuat dari besi. Kaku. Bahkan untuk memalingkan ke arahku.
****
 Saat sampai di rumah, kaulangsung masuk dan menyalakan lampu di balkon. Kau tidak bicara untuk menyegarakanku masuk. Lima langkah dari teras rumah, disitulah aku berdiri. Berdiri mengharap perhatian kecil yang tak kunjung aku dapat. Kumenundukan pandangan sembari menahan gejolak perasaan yang terasa. Aku tahu, kau sedang berdiri di daun pintu memerhatikan hujan yang segera turun. Matamu itu tidak sekali pun melihatku. Sekelebat kilat dan petir nyaris bersamaan dengan tanganmu menutup wajahmu. Kau kembali masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu. Cepat sekali reaksimu tanpa memerhatikan aku yang sedang ada di depanmu.

”Apa kamu tidak melihatku? Apa terlalu sulit untuk memanggil namaku?” desisiku bersama dengan tetes pertama turunnya hujan.

Aku terbayang dengan bibir merah mudamu itu. Di bibir itu seperti ada kunci abadi yang tak bisa terbuka oleh apapun terhadapku. Bahkan, saat kau mengucap janji suci kita. Aku dan perempuan yang berada di dalam rumah. Bibirmu tidak bergerak. Aku seperti bermonolog kala itu. Sebenarnya rumah ini adalah rumah kita. Tapi, entah, di sini aku seperti berada di hutan. Sepi. Mencekam.

Air yang turun dari langit semakin deras. Dengan gemuruh petir dan kilat memaksaku untuk segera pergi. Aku mengenakan jaket yang pernah kusiapkan untukkmu. Untuk menghangatkanmu. Untuk kau peluk. Untuk menemanimu saat pergi ke puncak bukit. Jaket ini kukenakan dengan erat. Erat sekali.

Lidahku menjilat air yang turun dari hidung. Entah air yang kujilati itu air hujan atau air mata. Yang pasti ini terasa asin. Aku menerpa hujan angin yang membuat kendali sepeda motorku limbung. Dalam keadaan seperti ini, aku ingin tahu selama aku berada di sisi perempuan itu, berapa banyak yang kutahu tentang dirinya. Aku menghentikan motor pada sebuah persimpangan. Lampu merah. Di sisi kiri-kananku terlihat orang-orang yang penuh dengan pikiran masing-masing. Apa salah satu dari mereka berpikir mengapa ada perempuan yang begitu dingin. Mataku menatap lampu tiga warna itu tanpa tuju.

 Januari 2013