Surat Untuk Ran

Hi, Ran, Apa kabar?

Apa kau mau membaca ceritaku lagi? Semoga kautidak keberatan untuk terus membaca.
Ran, apa kamu tahu cerita tentang Toto-chan? Ituloh, buku yang pernah kukasih dua bulan lalu sewaktu kita bertemu di food court. Kalau, ya, syukurlah, kalau belum dalam pesanku selanjutnya akan kutagih kauuntuk bercerita. Dan aku tidak mau kata tidak untuk itu. Ran, saat aku menulis pesan ini aku baru pulang dari kantor. Kamu tahu, Ran, di kantor walaupun ramai tapi aku selalu merasa sendiri. Bukan, bukan aku tidak bisa bergaul atau tidak mau berteman dengan mereka. Tapi kamu tahu, kan, aku itu seperti apa?

Aku tidak keberatan dengan sifat dan “Kebesaranku” yang seperti ini. Kamu tahu maksudku, kan, Ran? Terkadang ada rasa yang membuatku risih juga, walaupun seperti itu aku juga punya perasaan, kan? Aku juga masih manusia, kan, Ran? Dan aku berhak untuk menolak perasaan seperti itu, kan? Yang aku tidak bisa bagaimana caranya, Ran?

Kemayu, mereka menyebutku seperti itu. Apa kalimat itu ada yang salah, Ran?  Ran, bukannya kemayu itu berasal dari kata ayu, bahasa jawa yang berarti cantik dan cantik juga merupakan cerminan dari keindahan? Benarkan? Gerak tubuhku memang seperti ini, menurutmu apa aku harus menyalahkan Tuhan? Rasanya tidak mungkin. Katamu, semua manusia dilahirkan dengan keindahan-Nya, kan?


Ah, Ran, andai kamu sekarang berada di sini.
Ada banyak hal yang ingin kubagi untukmu, termasuk cerita tentang mami. Keadaan Mami membuat tiap hari aku getar-getir, Ran. Kadangkala dia menanyakanmu kapan datang, untuk menghiburnya dengan permainan alat musikmu. “Kapan Ran main ke sini lagi?”  pertanyaan seperti itu yang susah kali untuk kujawab. Aku harus jawab apa, Ran? Memikirkan mami yang seperti itu serasa ada yang membuatku tidak semangat untuk menjalani hari-hari ini. Aku selalu ingin cepat pulang untuk memastikan mami baik-baik saja.

Ehm …, apa lagi, ya?

Yang pasti aku menunggumu untuk kembali pulang, menemaniku lagi di setiap perjalanan yang harus kulalui dengan keadaanku yang seperti ini. Semakin hari, kesempatanku untuk menikmati suasana denganmu, mami, juga entah apa yang harus kucapai semakin kabur.
Ran, tolong pulang.


05 September 2014