Belajar Bersama Totto-Chan

Halo, Sob,

Ini postingan gue yang terbaru setelah sekian lama gue berhibernasi, Haha

Gimana hari kalian? Dan gimana,  masih ngeributin sikap anggota terpilih yang terkesan anak kecil rebutan imunisasi #eh. Atau masih ikutan tagar #ShameOnYouSBY? Ya, berita itu lagi heboh-hebohnya sekarang, cuman kalian pernah mikir enggak, sih, kenapa keadaan negara kita ini penuh dengan drama begini? Gue sih curiga kalau pimpinan kita (yang antah berantah itu) kebanyakan nonton Basti** stainless steell, ah, IYKWIM, pokoknya.  Oke, gue enggak  akan bahas itu sekarang, lain waktu mungkin akan sedikit gue bahas tentang mereka itu juga kalau jempol gue enggak berkotraksi karena ngebahas mereka. Haha



Beberapa hari ini gue lagi seneng baca buku terjemahan. Lumayan banyak sih, kalau ingatan gue bener gue udah baca dua buku. Banyak, kan? Dan buku yang terakhir gue baca di minggu ini dari karya Tetsuko Kuroyanagi, dari namanya aja udah ketahuan, kan, kalau pengarangnya berasal dari mana? Mungkin buat angkatan lama udah tahu judul buku yang gue maksud, kebetulan buku ini udah lumayan lama di terjemahin ke Bahasa. Asal lo tahu aja buku aslinya udah terbit dari tahun 1981. Jangankan lo, gue aja belum lahir! Makanya di awal gue bilang kalau kalian yang baca dari "angkatan lama" pasti tahu.



Buku ini nyeritain masa kecil penulisnya sendiri, Tetsuko kuroyanagi, untuk mengenang Sosaku Kobayashi. Dan Pak Kobayashi ini kepala sekolahnya, lo akan belajar keistimewaan anak-anak dengan keriangan dan kepolosan mereka. Juga cara belajar di Tomoe yang bisa banget diterapin di negara kita. 

Bagaimana sikap Pak Kobayashi begitu antusias ketika mendengar cerita dari Totto-chan waktu pertama kali masuk dengan bilang, "Sekarang, Ceritakan semua tentang dirimu. Ceritakan semua dan apa saja yang ingin kaukatakan?" (hal. 25) Untuk saat ini apa ada guru yang rela mendengarkan cerita anak kecil selama empat jam penuh? Gue pikir enggak ada, yang ada saat pertama kali masuk lo akan di test segala macam untuk nentuin kelas mana yang akan lo tempatin? Betapa pendidik seperti Pak Kobayashi dibutuhkan di negara kita, Sob.

Gimana dengan belajar kesehariannya sama aja kayak sekolah biasa? Enggak dong, di Tomoe siswa belajar menurut apa yang ia suka, enggak masalah murid yang satu asik menulis abjad atau belajar bahasa tapi di sisi lain ada murid yang lagi serius ngejalanin percobaan fisikanya. Aneh, kan? Enggak juga, kalau lo tahu alasannya seperti apa, gue kutip sedikit dari halaman 38, "Metode pengajaran seperti ini membuat para guru bisa mengamati-sejalan dengan waktu ketika anak-anak melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi-bidang apa yang di minati anak-anak, termasuk cara berpikir dan karakter mereka. Ini cara ideal bagi para guru untuk benar-benar mengenal murid mereka", gimana? Dengan metode pengajaran seperti ini minat atau istilahnya passion seseorang udah kelihatan dari dia masih kecil. Dan dampaknya bakal berpengaruh besar ketika dia udah mulai masuk perguruan tingg, jari, enggak akan ada bingung-bingung lagi untuk milih jurusan apa dan istilah "salah masuk jurusan" bisa banget di minimalisir. Keren, kan?


Nah, belajar seperti itu udah banyak di terapin di negara eropa sana, dan entah kenapa negara tercinta kita malah masih sibuk nyusun kurikulum yang menurut gue malah jadi sistem uji coba di laboratorium. Selama 12 gue sekolah aja gue udah ngerasain tiga atau empat, tepatnya gue lupa, dari kurikukulum 2002, kurikukulum 2004, KTSP 2006 sampai adik kelas gue ngerasain kurikukulum 2013. Bukan cuman Pak Presiden doang yang bisa bilang prihatin, gue, sebagai anggota masyarakat yang peduli dengan pendidikan untuk adik kelas juga sangat prihatin. Prihatin banget malah.



Yang lebih menarik pas kita bersekolah di SD Tomoe adalah kita akan mendapatkan kesenangan berupa berjalan-jalan sambil belajar. Jalan-jalan sambil belajar menurut gue juga penting untuk di adain di sekolah formal di negara kita, mau tahu alasannya? Baiklah, jalan-jalan sambil belajar berbeda dengan bermain sambil belajar, dan lo jangan nyamain keduanya. Kenapa beda, kalau bermain sambil belajar menurut gue lebih kepada mengembangkan sistem motorik anak saat mereka sedang bermain yang sejatinya adalah sebuah pelajaran. Beda dengan jalan-jalan sambil bermain, selain mengembangkan motorik anak, hal seperti ini akan juga bakal berpengaruh pada mental anak. Dengan jalan-jalan anak akan belajar sejarah, sosial dan sains juga.



Mungkin lo enggak percaya, tapi yang pasti ketidakpercayaan lo banyak di pengaruh dari pendidikan yang udah lo jalanin selama ini.  Beda dengan Pak Kobayashi yang percaya kalau murd-murid Tomoe akan menjadi seseorang yang baik juga murid yang mempercayai Pak Kobayashi.



Sebelum gue mengakhiri tulisan ini, ada yang ingin gue bagi buat lo semua. Simple, enggak perlu di jawab cukup pikirkan baik-baik dari pertanyaan gue dan pernyataan Pak Kobayashi ini. Udah siap? Pertanyaan gue adalah, "Apa yang melintas di pikiran lo saat anak laki-laki dan perempuan berenang di kolam yang sama tanpa pakai pakaian apa-apa? Benar, telanjang!!!"

Gimana dengan pertanyaan gue tadi? Pikiran baik atau malah kotor yang melintas dalam otak lo? Haha

Di halaman 72 lo akan mengerti kalau berenang dengan telanjang itu keren. Terlepas dari budaya dan etika yang berlaku di negara kita, ya?! Kira-kira seperti ini alasan Pak Kobayashi, "...karena menurutnya tidak wajar jika anak laki-laki dan anak perempuan terlalu ingin tahu tentang perbedaan tubuh mereka, sampai melebihi batas kewajaran. Menurutnya pula, tidak wajar jika ada orang yang mati-matian berusaha menyembunyikan tubuh mereka dari orang lain." Masuk akal, kan, pendapat Pak Kobayashi? Di halaman selanjutnya dia bilang seperti ini, "... Jika mereka bertelanjang dan bermain bersama, rasa malu mereka akan hilang dan itu akan membantu mereka menghilangkan rasa rendah diri."

Diantara kita enggak semuanya bertubuh sehat dan lengkap. Masih ada anak lain yang terlahir cacat dan merasa rendah diri. Dengan bermain telanjang anak yang sebelumnya rendah diri akan melupakan keterbatasan mereka. Juga anak yang terlahir lengkap tidak akan mempermasalahkan kekurangan mereka. Teman akan selamanya teman, bukan begitu? Pak kobayashi mengajarkan kalau semua anak istimewa. Dan pengajaran di Tomoe yang seharusnya jadi kurikulum kita?!





Oktober 2014