Yang Kuinginkan

Jumat, 20.00

Papa memegang tanganku erat. Erat sekali, saat aku bilang pada papa apa dia bisa melepaskan pegangannya, dia memandangi wajahku --bola mata yang biasanya bersinar sekarang terasa redup terhalang bayang rambutku-- kemudian menggeleng. Papa bilang kalau dia harus memegangi tanganku agar aku tidak kabur.

"Tapi aku ingin keluar, di sini gelap, boleh, ya, Pa?" kataku. Tidak ada jawaban, papa malah menggendongku, mendekatkan dahinya hingga menyentuh kepalaku. "Tidak, sampai semuanya baik-baik saja," ucapnya perlahan. Aku mendengus pelan, pasrah.

Jumat, 21.30

"Kapan mama pulang, Pa?" Papa mengalihkan pandangan ke arahku, diam sejenak, lalu memelukku. Entah kenapa akhir-akhir ini papa begitu senang memelukku. Biarpun pelukan mama tidak sehangat papa, kadang pelukan papa membuatku sulit bernapas. Biasanya kalau hal itu terjadi aku buru-buru melepaskan diri dari tangannya dan bilang, "Aku sudah besar, Pa! Apa aku masih terlihat cantik?"

Dengan hari ini mama sudah pergi tiga hari, sebelum mama pergi, mama seperti biasa menyiapkan pakaian dalam koper, tapi kepergian kali ini mama membawa dua koper besar. Koper-koper itu setinggi badanku. Melihat mama akan pergi, dari balik koper aku bertanya, "Mama mau pergi ke mana?"

Mama melambaikan tangan tanda untuk mendekat dengannya. "Mama mau pergi jauh," ujarnya. Aku diam, "Jadi orang yang sudah besar enak, ya, Ma? Bisa pergi jauh. Di jauh nanti mama sama siapa? Mama enggak kesepian? Apa aku dan papa boleh ikut? Aku juga ingin pergi ke jauh, Ma," kulihat kedua mata mama berair.

Jumat 22.15

Harusnya malam ini mama mengajakku ke pasar malam. Dan mama tahu itu. Untuk ke sana aku akan berjalan sepuluh menit dari rumah dengan mama dan papa juga. Bukan cuman kami saja yang pergi ke pasar malam; Rai laki-laki yang giginya ompong karena suka sekali makan permen dan cokelat juga di sana. Karena Rai pula aku sering takut makan permen, karena mama sering menakuti gigiku akan dicuri monster kecil yang jelek saat tidur seperti gigi Rai.

Saat aku bermain mandi bola, aku juga bertemu dengan Meli. Rumah Meli berada di seberang rumahku. Mama Meli seorang dokter, saat aku demam mama selalu membawaku ke sana. Tiap kali Mama Meli selesai memeriksaku, ia selalu memberiku lolipop. Dan aku menolaknya. Ketika ia tanya kenapa, aku menjawab, "Aku takut monster kecil jelek yang mama ceritakan akan datang dan mencuri gigiku seperti Rai, Tante."

Aku suka sekali pasar malam, mendatangi setiap pedagang di sana dan bertanya apa saja pada mama. Tapi mama selalu menggandeng tanganku, aku jadi tidak bebas untuk berlari dan berkeliling. Hal lain yang tidak kusuka juga mama suka sekali berlama-lama di tenda penjual baju, mengepaskan ukuran bajunya padaku dan banyak juga lainnya.

Ya, harusnya malam ini mama mengajakku ke pasar malam. Aku bertanya pada papa, apa mama lupa kalau malam ini harus ke pasar malam? Papa bilang tidak. Mama selalu ingat malam ini jadwal untuk ke pasar malam. Lalu ke mana mama sekarang? Kenapa tidak datang, Pa? Papa bilang sebentar lagi mama datang, aku harus menunggunya. Sambil menunggu kamu bisa tidur dulu, saat mama datang nanti papa akan membangunkanmu.

Aku mengangguk.

“Saat mama datang, papa harus membangunkanku. Sekarang, pergi ke pasar malam bersama mama hanya satu-satunya hal yang kuinginkan, Pa.” Papa mengedongku. Dan lagi-lagi mata papa berair.

2014, Oktober