Bu Dokter

  
Selamat malam,

Hi, Bu dokter?
Kamu tahu kenapa aku selalu suka memanggilmu seperti itu selain uni? Karena pekerjaan itu berasal dari lubuk hatimu. Dan jika ucapan adalah doa, semoga panggilanku itu akan jadi doa terbaik untukmu, Bu. Semoga.

Ada satu harapan yang entah bisa kutitip untukmu atau tidak, tapi tolong di luar sana masih ada yang butuh bantuan dari tangan seorang dokter profesional, yang tanpa memikirkan berapa biaya yang harus mereka keluarkan agar bisa sembuh. Mereka juga manusia toh? Aku tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan selama menjalani pendidikan seorang dokter. Tapi jangan sampai itu semua mengenyampingkan perasaanmu sebagai manusia. Jikalau lima atau enam tahun mendatang kita diberi kesempatan untuk bertemu, satu pertanyaan yang kuingintanyakan ke kamu bukan lagi berapa banyak uang yang kamu terima atau sekarang kamu menjalani spesialis apa tapi sudah berapa kali kamu menolong orang yang tidak bernasib baik?

Aku sadar dan mengerti, Uni, kita hidup sekarang dalam kungkungan globalisasi. Kita tidak bisa menolak dari itu agar bisa menjadi negara besar. Tapi ada satu hal yang kusayangkan, kenapa orang-orang di sekitar kita mendadak menjadi orang yang berpaham uang adalah segalanya. Apa kamu merasakan ini juga?

Ah, maaf, arah bicaraku terlalu berat, ya? Baik, lain waktu di kesempatan yang akan datang kita akan ngobrol banyak seperti dulu. Kamu tinggal pilih topiknya seperti apa. Yang pasti kamu harus sehat dulu.

Kamu yang di sana apa kabar? Amandelmu membaik, kah? Semoga, ya, aku belum pernah ngerasain yang pernah kamu rasa, sih, tapi dari artikel yang kubaca itu menyakitkan. Beneran, deh. Tapi itulah keadilan Allah, walaupun kamu akan jadi dokter nantinya (aaammminnn) kamu enggak mungkin untuk memeriksa atau mengoperasi dirimu sendiri, kan?

Bu dokter, kalau kamu setelah baca ini dan lihat kalender yang ada di sudut mejamu, kamu akan sadar betapa cepatnya sang waktu. Adik kelas kita sudah selesai ujian, itu artinya mereka sebentar lagi akan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Sama seperti kita dulu, mereka masih  pusing dengan pilihan jurusan yang akan mereka ambil, ke almamater mana mereka menuntut ilmu dan tetek bengek tentangnya yang idela menurut mereka. Tentu kamu masih ingat dengan kertas doa yang kita tempel dulu di lemari. Kita sama-sama belum diberi kesempatan untuk mencapainya. Tapi itu bukan akhir, kan? Walaupun mungkin dua bulan lagi kamu enggak jadi untuk ikut tes tapi kamu akan tetap jadi seseorang yang kukenal baik. Pun dengan aku. Di mana pun kita belajar atau di mana pun kita melangkah untuk menjalani beberapa tahun ke depan. Allah Maha Baik atas keputusannya untuk kita, karena fungsi pendidikan adalah memanusiakan manusia. Aku pun demikian, belajar menghargai diriku sebagai manusia dengan jalan keputusan yang kuambil.

Terakhir, aku tidak bisa memenuhi untuk membuatmu sebuah puisi. Karena kemampuanku menumpul untuk membuat itu, sebagai gantinya aku buatkan ini untukmu. Kalau puisi terlahir dari sebuah rasa yang tulus. Berbeda dengan ini, surat ini terlahir dari sebuah perasaan bangga padamu.

Jakarta, 19 April 2015


Dari teman lintas pulaumu.