Untitle

Kauyang mengalahkanku waktu itu




Selamat ulang tahun,
29 April lalu, ya? Andai saja besok lusanya kamu tidak memberi tahuku, mungkin sampai saat ini aku tidak pernah ingat hari itu, Di. Seperti yang telah kuucapkan waktu itu, jikalau tahun kemarin aku istimewa karena mengucapkan kalimat itu pertama kali. Tahun ini pun demikian karena mungkin hanya aku yang terakhir kali mengucapkan kalimat itu. Sama-sama istimewa, kan? :)

Pernahkah kamu berpikir 5 tahun yang lalu apa yang sedang kita lakukan? Bercanda di bawah hujannya bulan Mei? Menunggu datangnya pelangi setelah gemiris sore tadi? Atau tidak sama sekali. Kira-kira apa yang kita lakukan?

7 tahun kita saling dekat tapi tidak benar-benar saling mengenal. Beberapa bulan pernah bersama tapi masih tidak bisa saling memahami, betapa indahnya hubungan kita, ya? Hubungan yang bebas layaknya terbangnya burung. Ia bebas singgah di manapun, bebas berkelana, bebas mengikuti kawanannya serta bebas bermesraan dengan pasangannya. Tapi pada akhirnya burung itu akan kembali ke sarang juga. Seperti kita, akan kembali mengucap “Hi, sombong, ya? Enggak pernah hubungi aku lagi?”

Aku lupa menanyakan kabarmu, Di? Kamu yang di sana apa kabar? Apa kabar juga pasanganmu yang sekarang? Semoga baik. Selalu. Ya, semoga.

Di, meski sekarang kamu berada di pelukan orang lain, yang bisa membuatmu tertawa, menangis lalu tersenyum. Itu sudah cukup untuk membuatku mengerti kalau kamu memang berada di pelukan yang tepat. Kamu tahu waktu itu – atau mungkin aku yang terlalu percaya diri – aku cemas kalau bukan aku yang berada di sisimu, karena aku takut sisi anak kecilmu akan hilang. Itu saja. Tapi sekarang tidak lagi, setelah aku sadar adakalanya sisi itu lambat laun akan menghilang dengan sendirinya.

Di, aku mengingatmu karena hujan. Hujan yang tercermin di bola matamu. Yang terkadang hujan itu jatuh dari ceruk matamu. Di, Papahku pernah bilang kalau perasaan manusia hadir karena pohon kapas. Waktu itu dewa ingin menanamkan sebuah rasa welas asih, begitu lembut dan menenangkan dalam dada manusia. Dewa tersebut pun menemukan padang yang di tumbuhi pohon kapas setelah berhari-hari berjalan ke sana – ke mari. Dewa berdecak kagum akan putih, lembut dan indahnya saat kapas-kapas itu berterbangan, persis yang dewa inginkan. Akhirnya dewa itu mengambil salah satu pohon kapas di sana, dibawa pulang dan ditanam di pelataran istananya. Saat ada bayi lahir dia menitipkan petikan tangkai bunga kapas pada utusannya untuk di semaikan di dada bayi itu. “Agar dia tumbuh dan merasakan kelembutan ini,” katanya.


Namun Sang Dewa lupa kalau kapas yang ia tanam pada setiap jiwa yang lahir terkadang begitu rapuh terkena angin dan hujan besar. Tapi percayalah, Di, setiap keindahan akan silih berganti selama tanaman kapas itu masih tumbuh di dadamu, di dada setiap orang. Yang kauperlu saat ini hanya angin semilir yang akan menumbuhkan regenerasimu.

Di, aku ingin menulis ini sudah lama. Sebagai tanda bahwa aku sudah sadar untuk melepaskan semua harapannya yang kupunya. Terkadang aku ingin berhenti, tapi aku selalu gagal. Karena jika cinta adalah sebuah hutang, melalui tulisan ini akan kubayar tuntas semua perasaan yang kupunya. Yang belum kuungkapan akhir-akhir ini. Bagaimana pun aku sudah tidak bisa lagi menunggu yang kutahu tidak akan pernah datang. Semoga kamu menemukan semilir angin yang tepat. Begitu pun aku yang menemukan pohon kapas yang mau kuhembuskan perlahan.


Salam,
Dari yang pernah kaukalahkan waktu itu.


April – Juni 2015