Gerimis Panjang dan Kamu


: Andin Anindya

Aku masih harap-harap cemas. Beberapa kali kutengok jam di ponselku. Kamu telat lagi. Kesekian kali kita berjanji ditempat  ini, kesekian kali juga kamu berhasil membuatku cemas seperti ini. Seseorang memegang bahuku, silakan diminum, aku mengangguk. Orang yang memegang bahuku barusan adalah Ren, lelaki  yang mungkin seumuranku dan merupakan orang yang kali pertama menyambutku tiap kali ke tempat ini. Ren pula yang mengantarku dan sengaja mengusir pengunjung di meja ini. Di meja persegi yang ujungnya tertulis namamu, meja 7 lantai 2. Meja yang kaupilih menghadap jendela dan pemandangan bukit.

sumber
Dua cangkir teh susu. Dengan aroma yang sangat kekukenal serta uap yang melayang-layang mencarimu.

Kamu tidak suka susu. Tapi anehnya, kamu menyukai minuman ini, minuman yang merekatkan kita. Bisa sampai di tempat ini. Seperti ini. Dulu kamu bilang minuman ini enak. Tapi buatku lebih dari itu, kamu tahu saat kali pertama bagaimana kamu membuatkan minuman itu untukku? saat mata kecilmu tertuju pada kemasan susu dan bagaimana rasa penasaranmu akan rasa susu itu hingga akhirnya kamu mencicipi namun memuntahkannya. Hingga kemudian bagaimana aku tidak tahan saat kamu datang bersama uap dari cangkir dan senyum tipismu kala itu.

Cemasku berhenti. 

Itu kamu, yang melompat seperti kelinci ditengah gerimis. Itu benar kamu, yang mengenakan topi NASA warna maroon yang mengenakan sweeter sewarna dengan jaketku. Ya, kamu datang.

#cerita ini dibuat terinspirasi dari sini.
#Bekasi;16:57