(Kembali) Gagal


:Andin Anindya

“Akan tiba saat di mana aku dan kamu melebur menjadi satu. Akan tiba kala di mana mendekapmu tak lagi tabu. Akan tiba masa di mana jarakku dan kamu hanya sebatas 2 gelas susu.”
Walaupun aku berhasil membawamu ketempat ini. Tapi bukan berarti aku berhasil untuk membawa pikiranmu berada di sini. Di tempat ini, disampingku. Kamu masih saja mencermati anak-anak di ujung sana, yang sedang tertawa barmain gundu. Aku bertanya apakah kamu ingat saat kita seumuran dengan anak-anak itu, kamu selalu menang sementara aku selalu kalah dan menangis hingga akhirnya kamulah yang mengantarkanku sampai ke rumah. Kamu tertawa. Puas sekali. Mukamu memerah saat berkas-berkas matahari jatuh di airmukamu.

Semakin lama semakin cerita kita tidak bisa berhenti, hingga akhirnya kamu terdiam. Minta minum. Aku berdiri. Mencarikanmu minuman kaleng dan sedikit makanan untuk kita, yang mungkin akan kembali tertahan beberapa lama di tempat barusan. Satu – dua – tiga hingga belasan langkah terlewati aku kembali melihatmu sedang sibuk memainkan ponsel. Aku tersenyum. Apakah kamu tahu, aku tidak pernah tahan saat kamu sedang tersenyum seperti itu? Aku selalu membayangkan saat kamu tersenyum ada malaikat-malaikat kecil seukuran lalat yang menarik bibirmu ke atas dan menaburkan serbuk madu. Serbuk madu itu berguna agar semua benda yang mengenainya akan terasa manis dan menarik. Seperti itulah senyumanmu.
Kamu memanggilku. Aku terperanjat. Kembali melanjutkan langkahku kembali.
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/50/88/75/508875aec2edd7cc218dc83615f7122e.jpg Dua kaleng minuman dan sekotak biskuit coklat. Kamu terlihat tidak sabar dan menghampiriku yang tengah membawa kantong kecil. Kamu berhenti. Menarik tanganku sampai ke tempat semula. Biarpun rambutmu tertutup topi, tapi semilir angin masih bisa membuat rambutmu menari. Kanan-kiri sembari terus memegang tanganku. Sampai. Kita berhadapan, napasmu terengah-engah. “Kenapa? Kamu masih iri? Mataku indah, kan?” aku mencoba memulai pembicaraan kembali.
   Dia berpaling dan mendorongku. Aku tersenyum lalu mengeluarkan minuman dan memberikannya. “Kalau tidak, lihat mataku kalau aku sedang bicara. Apa susahnya?“ dia tidak mengacuhkanku. Kutarik lengannya. Mata kita kembali bertemu. Tahukah kamu, bagaimana aku bisa selalu berada di sini setiap minggunya? Bagaimana aku bisa selalu meluangkan waktu bisa duduk di tempat ini? Dan bagaimana seperti yang kamu ucapkan, “Aku ingin kita tidak lebih dari jarak dua gelas susu.” Aku mendekapmu dan menyediakan ruang-ruang agar bisa kamu tempati dan pulang kembali. Dia tidak berkomentar. Ya, mungkin aku (kembali) gagal. Aku tidak melihat anak-anak berseragam merah putih di sana. Mungkin sudah pulang. 
#cerita terinspirasi dari judul yang sama di posini dan diedit seperlunya.