Semoga di hari itu ....

Selasa, 28 Januari

Dunia ini begitu sunyi. Seperti halnya sebuah harmoni tanpa nada. Burung yang terbang tanpa ada kepak sayap. Dan juga layaknya malam yang penuh dengan rintik hujan-hujan ringan tak bersuara. Seperti hari ini, di persimpangan jalan, di halte persimpangan jalan aku duduk dengan cemas. Berharap satu-satu harapan muncul perlahan dari atas atap halte yang mulai basah tersentuh hujan yang belum juga usai dan enggan tuk pergi.


Aku duduk ditengah kerumunan orang-orang yang sama halnya denganku. Mungkin saat ini mereka tengah berpikir bagaimana caranya bisa sampai di rumah dengan cepat. Seorang mungkin tengah berpikir bisakah anaknya mengantarkan payung untuknya. Bisa juga satu dari mereka tengah memikirkan barang apa yang harus mereka beli terlebih dulu, sebelum akhirnya dia meminta maaf karena datang terlambat. Yang terakhir, mungkin ada di antara mereka tengah berharap dengan sangat, supaya hujan terus datang dan bertambah deras, hingga dia bisa menyatukan kenangan yang ia miliki yang mungkin saja masih tersisa di antara ribuan titik air yang turun.

Selain yang telah kusebutkan di atas, di arah jam sebelas dari tempatku duduk ada sepasang remaja tanggung bercengkrama. Saling merapatkan dan menghangatkan. Yang laki-laki tengah bercerita entah apa namun sangat antusias. Dan perempuan yang di samping laki-laki itu hanya menanggapinya dengan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat serta sesekali ia menundukan wajahnya.

Aku kembali dengan hatiku sendiri. Memaksakan untuk terus bermonolog serta terus memerhatikan sekeliling. Jalan raya penuh dengan kebisingan mesin-mesin beroda, terus berjalan dan menembus hujan dalam kecepatan. Perasanku semakin tidak keruan, ada apa ini? Kenapa sampai selama ini aku masih tetap menunggu di sini. Ada alasan yang kulupakan sehingga aku bisa duduk di persimpangan ini. Aku duduk dalam keadaan gelisah, sampai aku melihat seorang perempuan di seberang jalan dekat jembatan penyebrangan tengah berdiri dengan payung ungu. Kegelisahanku terhenti, karena aku bertemu dengan alasan kenapa aku duduk disini, di halte persimpangan ini. Di seberang sana ada perempuan yang menginginkan memiliki rumah sederhana berdinding permen-permen dan berlantaikan cokelat.


Senin, 28 Desember

Hujan selalu saja datang sendiri, menyisihkan semua orang atas kesedihan yang ia miliki. Seperti sore ini, hujan masih satu-satu turun di persimpangan jalan dan aku berada di antara tetes-tetes hujan itu. Aku lupa kenapa bisa begitu ingin berada di tempat ini. Bermain dengan air hujan dan tanpa ditemani oleh siapapun. Aku menuju halte di depan sana, melipat payung dan duduk dengan tenang. Aku masih mengatur napas dan mengosok-gosokkan telapak tangan yang dingin karena terlalu sering bersentuhan dengan hujan.

Dunia ini gelap. Kata orang gelap itu tidak pernah diciptakan Tuhan untuk dunia ini, gelap hanya sebuah kata yang mengistilahkan kekurangan cahaya. Kalau memang gelap itu tidak ada dan hanya ada kekurangan cahaya, maka cahaya adalah satu dari banyak hal yang tidak ingin kusebut dalam doaku untuk Tuhan. Agar gelapnya, maaf maksudku, kekurangan cahaya dalam duniaku bisa terus kunikmati. Dan terus berjalan apa adanya.

Aku menengadahkan kepalaku. Dari mataku ini hanya tampak terlihat berwarna hitam, tidak ada yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sementara hujan masih begitu merasakan duka, tanganku meremas surat yang kudapat seminggu lalu. Surat yang kudapat minggu lalu dari adikku. Sebuah petunjuk untuk aku tetap berada di tempat ini. Sekarang.

"Apa kabarmu? Bisakah kamu datang di tempat kali pertama kita bertemu? Kuharap kita bisa membicarakan banyak hal tentang permen dan kembang gula seperti waktu itu. Aku akan menunggu 3 hari dari sekarang."


Aku menghela napas, dan menghembuskannya perlahan. Entah kenapa, aku memikirkan pria itu, pria yang kudapati tengah menggigiti kembang gula berwarna merah muda di pasar malam, ia pria dengan senyum kecil bermata bulat dengan kacamata minusnya. Aku bertemu dengannya secara tak sengaja, saat aku melepaskan pegangan adikku dari keramaian pasar malam waktu itu.
Aku tersenyum.

Katanya, ia ingin sekali menjadi kembang gula yang dimakan dengan cara menyesapnya. Agar manis yang berasal dari gula warna-warni itu bisa bertahan lama di dalam lidah sebelum menghilang bersamaan dengan sisa-sisa liur.

Aku merasakan langit telah menjadi benar-benar gelap, langit seperti ini benar-benar menggangguku, seperti, mengingatkan bahwa lebih lama aku berada di sini, semakin lama aku terjebak dalam kepingan bahagia yang telah kuciptakan sendiri. Tapi aku masih belum ingin beranjak dari tempat ini, tempat dengan jalan yang kukenal di dalam kepala, tempat yang benar-benar kutahu dengan hanya menyentuhnya. Terakhir, tempat yang menjadikanku tempat kembali kedua setelah surat itu.

Entah sampai kapan, aku juga tidak tahu, tapi, satu doaku untuk hari ini: Ada seseorang yang membantuku berdiri, mencoba merasakan apa yang kurasakan dan melihat apa yang kulihat. Seseorang yang memegang tanganku dengan menceritakan banyak hal tentang permen-permen dan kembang gula. Hingga itu terjadi, aku akan kembali besoknya …, besoknya …, besoknya …, dan besoknya.

#Cerita ini sempat diceritakan dengan judul Kembang Gula, diedit seperlunya dan diceritakan ulang untuk mengenang perempuan berkacamata yang kini berbeda visi.

25 Januari 2014.