Surga Itu (tidak) Ada


Finally,I can back to this world. 

Rasanya udah lama banget gue tidak menyentuh dunia ini, setelah kepergian Sigi beberapa tahun lalu, dan hari ini mulai kembali mencoba untuk aktif dengan semua kesibukan serta aktivitas yang ada. This chance I gonna review the last book I read.

Ada yang ngerasa aneh sama judul yang gue kasih untuk post ini enggak? Tenang .., gue masih sadar dan percaya sama adanya surga, kok. Walaupun surga dan neraka adalah sebuah konsep percayaan yang tidak bisa kita rasakan buat saat ini –dan mungkin juga akan terus jadi pertanyaan --. Daripada gue bahas lebih jauh dengan segala tetek bengek masalah surga, mendingan kalian baca buku “Surga Sungsang”.


Mungkin untuk yang terbiasa baca buku surealis pemberian judul semacam ini udah biasa, tapi buat yang belum banyak atau katakanlah baru naik kelas dari bacaan novel remaja yang memenuhi rak-rak toko buku atau yang mulai belajar bahwa ada yang lebih menarik ketimbang baca quote baper dari tere liye melulu.

Gue sebenarnya udah minat untuk baca karya-karya dari Triyanto Triwikromo, penjaga gawang sastra Harian Merdeka, dari dulu tapi gue baru kesampaian baru-baru ini, setelah baca tulisan dari A.S Laksana, Agus Noor ataupun Seno. Gue belum tahu banyak karakter tulisan dari penulis buku surga sungsang ini, tapi berbeda dengan Agus noor, Si Pangeran Kunang-kunang, yang punya diksi apik dan puitik atau A. S Laksana yang punya gaya cerita lebih blak-blakan walaupun sama-sama mengusung tema surealis. TT (inisial Triyanto Triwikromo) lebih memilih diksi yang sederhana tapi jarang dipake sama pengarang lain, contohnya seperti yang gue kutip berikut:

“Kufah keberatan bukan karena nisan Syekh Muso sering menguarkan cahaya hijau yang menyilaukan mata, tetapi jika sewaktu-waktu tanjung itu turut dilenyapkan, ia tidak akan bisa berlama-lama memandang bulan ….” (hal.1)”

Pada awalnya kata tersebut gue anggap typo, tapi gue ragu juga tidak mungkin editor penerbit sekaliber gramedia dan pengarang yang udah punya jam terbang tinggi semacam TT ini melakukan kesalahan sepele. Alhasil gue coba untuk cek n ricek di KBBI apps dan ternyata kata uar memang ada dan lebih lazim digunakan ketimbang “mengeluarkan”. Selain itu kata uar juga gue temui di beberapa bab selanjutnya dalam buku ini.

Sewaktu membaca buku ini gue punya perasaan yang sama ketika baca buku karangan Andrea Hirata. Kesengajaan pengarang melakukan loncatan alur cerita buat gue semakin penasaran untuk menyelesaikan buku ini. Karena untuk tahu penyebab inti cerita dari bab 1 mungkin akan lo temuin ketika baca di bab 5 atau 6. Pun di bab-bab akhir lo enggak akan temui anti-klimaks dari bab pertengah layaknya buku lain. Kecakapan pengemasan cerita dari TT yang apik buat gue punya klimaksnya tersendiri di tiap babnya dan TT memberikan keleluasaan pada pembaca untuk mengatur sendiri bagaimana cerita ini akan berakhir.

Selain itu, walaupun alih-alih TT menyebut buku ini sebagai novel tapi gue sebagai pembaca seperti membaca sebuah buku kumpulan cerpen. Karena seperti yang gue bilang di atas, bahwa tiap bab TT memberikan sebuah klimaks dan terkadang manuver yang uaaapiiik. Kalau lo anggap gaya bercerita TT aja yang apik dan tidak biasa lo salah besar, karena TT menyuguhkan sebuah isi yang buat lo mikir. Dengan judul Surga Sungsang yang disematkan pada buku ini, lo akan temui banyak istilah agama yang sering atau kerapkali kita dengar.

“Bangau-bangau itu sebagaimana burung Ababil menjatuhkan batu-batu sijil dari neraka ke tubuh pembantai. Batu-batu api itu bergesek dengan udara, menembus dada para pembantai sehingga tubuh-tubuh para pembunuh itu terbakar.” (hal. 29)

“Lalu malam itu juga Rajab membayangkan diri menjadi Hamzah yang mengomando pertempuran sengit melawan kemungkaran.” (hal.45)
Kutipan terakhir gue ambil dari bab yang berjudul Wali kesebelas, “Tak hanya dianggap memiliki semua mukjizat yang bisa dilakukan oleh Nabi Musa, seorang warga pernah menceritakan dengan terperinci, syekh Muso juga pernah ditelan semacam naga, semacam kerba laut, atau hiu raksasa, dan tak mati meskipun telah berada di perut hewan itu sehari semalam. Karena itu warga yakin bahwa syekh Muso itu sesungguhnya Nabi Yunus yang diutus menyelamatkan kampung dari kehancuran dan kemungkaran.” (hal. 9)

Saat gue menghela napas dan menuliskan review ini, gue baru sadar satu hal. Gue sadar kenapa pada akhirnya si pengarang memilih kata sungsang sebagai pendamping dari surga. Melihat definisi sungsang, KBBI menyebutkan seperti ini: Terbalik (yang di atas menjadi di bawah, yang di depan menjadi di belakang, kepala di bawah kaki di atas, dsb). Saat ini banyak sekali orang telah salah menginterpretasikan/menggambarkan apasih surga itu, which is surga yang memang telah banyak disebutkan dalam kitab suci dan surga buatan yang memang kita buat sekehendak atau sekeinginan kita.


#Desember, Bekasi 2016